Cerita Ala Denok berisi kumpulan cerita, cerpen, dan series hasil karya Denok

01 September 2013

Harga Sebuah Janji

Kisah ini di mulai saat sepasang kekasih memutuskan untuk mengikat Janji Suci, Seumur hidup bersama sampai maut memisahkan. Hari itu menjadi hari bersejarah bagi mereka berdua. Janji suci itu diikat di hadapan Tuhan melalui seorang hambaNya, disaksikan kedua belah orang tua, keluarga, dan handai tolan. Keduanya tampak bahagia. Sejak saat itu mereka resmi dihadapan Tuhan dan Pemerintah sebagai pasangan suami istri. Jiwa berkelana yang besar yang dimiliki sang suami membuat mereka mengambil keputusan untuk memulai pengembaraan mereka meninggalkan orang tua dan sanak saudara. Selalu bersama apapun yang terjadi itulah janji mereka. Bermodal beberapa keping uang di tangan merekapun berangkat tanpa ada tujuan yang jelas. Dengan berat keluarga pun melepas kepergian mereka.

Beberapa saat setelah kepergiannya, mereka masih tetap menjalin komunikasi kepada keluarga. Namun ketika bulan berganti bulan dan tahun pun silih berganti mereka tak kunjung berkirim kabar kepada keluarga lagi. Berbagai asumsipun mulai bermunculan diantara anggota keluarga, sampai akhirnya sang Ibu berkata "Jangan risaukan mereka, jika kalian sayang dan peduli dengan mereka silahkan doakan mereka agar tetap berada dalam lindungan Sang Pencipta." Seluruh anggota keluarga mulai dari ayah, ibu, kakak, adik, dan keponakan dari yang besar sampai yang kecil memanjatkan doa demi doa yang senantiasa di pohonkan kepada Pencipta agar Beliau senantiasa menyertai dan memelihara mereka dan jika Beliau ijinkan bolehlah mereka datang kembali suatu saat nanti.

Delapan belas tahun setelah kepergian mereka, disuatu pagi yang sedikit gerimis tiba-tiba terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Sang Ibu keluar untuk melihat. Tampak 2 motor abang ojek yang sedang menurunkan penumpang yaitu seorang ibu, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Ketika sang Ibu mendekat anak-anak itu serentak memanggil Ibu itu dengan sebutan Nenek. Ibu itu sangat bahagia melihat anaknya kembali setelah 18 tahun pergi tanpa kabar berita. Sambil melangkah masuk si Ibu mulai menanyakan kemana suamimu? dan berapa banyak anakmu?

Setelah beristirahat dan bercakap-cakap diketahui bahwa mereka pulang karena masa berlaku visa mereka telah habis. Suami dan anak pertama mereka masih tertahan di Negeri Jihran, karena masa berlaku visa mereka baru habis 6 bulan berikkutnya. Suaminya berjanji akan menyusul setelah 6 bulan. Berpegang pada janji itu sang Istri dan kedua anak mereka sementara tinggal di rumah sang Ibu, mereka berencana tinggal selama 6 bulan setidaknya sampai sang suami kembali. Selain itu anak-anak juga harus melanjutkan sekolah.

Enam bulan pun berlalu namun sang suami tak kunjung datang, suratpun mulai dikirim. Berbagai upaya dilakukan untuk bisa mendapatkan informasi keberadaan suaminya. Kesukaan hidup yang nomaden membuat sulit melacak keberadaan sang suami. Melihat semua upaya yang sudah dilakukan tidak mendatangkan hasil, keluarga meminta sang istri untuk pasrah dan berserah penuh pada Pencipta serta memfokuskan diri pada kelangsungan hidupnya dan kedua anaknya yang semakin beranjak dewasa.

Tahun-tahun berlalu sang suami tetap tak ada  kabar berita, saat anak-anak sudah lulus sekolah menengah atas sang istri memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke daerah Sulawesi. Bersama kedua anaknya mereka mengadu nasib disana. Hidup dengan status gantung dan jauh dari keluarga bukanlah hal yang mudah. Menjaga dan mengasuh dua orang anak yang mulai tumbuh dewasa juga bukan hal yang mudah. Harga yang mahal harus dibayar untuk itu semua, mulai dari air mata, peluh yang keluar atas setiap karya, rasa sesak di dada, rindu yang tak terperi, semuanya dibungkus dalam sikap tegar yang palsu. Merapuh namun selalu tampak baik-baik saja di depan keluarga dan anak-anak.

Dua puluh tahun berlalu sang istri masih tetap seperti yang dulu, bertahan dalam posisi yang sama karena sebuah janji yang pernah terucap. Tak peduli berapa harga yang telah dibayar dia tetap memohon dan berharap suaminya kan datang suatu saat nanti. Kini tibalah giliran sang anak perempuan yang dilamar oleh seorang pemuda. Ingin melihat anaknya bahagia, restupun diberikan. Tanpa di dampingi oleh seorang suami sang istripun menikahkan anak gadisnya dengan pemuda itu.

Setahun kemudian sang anak melahirkan seorang cucu perempuan. Kebahagian tampak sekilas di balik wajah sang istri yang mulai dipenuhi dengan guratan halus tanda usia semakin bertambah. Sejak ditinggal menikah oleh anak perempuannya, sang istri hidup berdua saja dengan anak lelakinya.

Tak ada firasat apa pun sebelumnya, tiba-tiba datang kabar dari seorang sanak saudara yang memberitahu keberadaan sang suami. Kabar itu mengatakan jika sang suami sudah kembali namun tidak memiliki keberanian untuk berkunjung ke rumah ibu, sebab membawa dua orang anak hasil pernikahannya dengan wanita lain selama tinggal di negeri jihran. Sedangkan anak sulung mereka dinyatakan meninggal akibat kecelakaan kerja. Mendengar kabar itu semua, sang istri hanya tersenyum dan berucap " Tolong sampaikan saat ini saya ada di Sulawesi jika ingin menemui saya dan anak-anak silahkan datang ke mari."

Tidak semua orang menganggap Janji adalah sesuatu yang berharga ada sebagian orang yang menggangap janji adalah sekedar ucapan tanpa ada harganya sama sekali. Enatah itu dilakukan karena tidak memiliki keberanian dalam membayar harga yang mahal atas sebuah janji atau ada unsur kesengajaan di dalamnya. Untuk itu pikirkanlah matang-matang sebelum berjanji. Dan jika janji sudah terlanjur terucap bersikap jantanlah untuk membayar harga dari janji tersebut. Oleh sebab itu banyak orang yang mengatakan "Janji adalah Hutang yang harus dibayar pada waktunya"
By Denok (diangkat dari kisah nyata)

0 comments:

Post a Comment

Theme images by gaffera. Powered by Blogger.

© 2013 Cerita Ala Denok, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena